PERKEMBANGAN
ANAK
Anak akan mengalami suatu periode
yang dinamakan sebagai masa keemasan anak saat usia dini dimana saat itu anak
akan sangat peka dan sensitif terhadap berbagai rangsangan dan pengaruh dari
luar. Laju perkembangan dan pertumbuhan anak mempengaruhi masa keemasan dari
masing-masing anak itu sendiri. Saat masa keemasan, anak akan mengalami tingkat
perkembangan yang sangat drastis di mulai dari pekembangan berpikiri,
perkembangan emosi, perkembangan motorik, perkembangan fisik dan perkembangan
sosial. Lonjakan perkembangan ini terjadi saat anak berusia 0-8 tahun, dan
lonjakan perkembangan ini tidak akan terjadi lagi di periode selanjutnya. Saat
perkembangan anak khususnya saat perkembangan dini, orang tua harus betul
menjadikannya sebagai perhatian khusus, karena hal ini tentunya akan sangat
berpengaruh terhadap kehidupan anak di masa yang akan datang. Guna mendukung
hal tersebut berikut adalah beberapa hal yang harus di perhatikan orang tua
mengenai perkembangan anaknya.
1.
Perkembangan Kognitif
Perkembangan
kognitif anak terbagi ke dalam beberapa tahap:
- Tahap Sensorimotor, pada
tahap ini kemampuan anak hanya pada gerakan refleks, mulai mengembangkan
kebiasaan-kebiasaan awal, mereproduksi berbagai kejadian yang menurutnya
menarik, mulai menggunakan berbagai hal atau peralatan guna mencapai
tujuannya, melakukan berbagai eksperimen dan anak sudah mulai menemukan
berbagai cara baru. Tahap sensorimotor terjadi saat usia 0-2 tahun.
- Tahapan Pra-operasional, pada
tahap ini anak mulai menerima berbagai rangsangan yang masih terbatas,
Kemampuan bahasa anak mulai berkembang, meskipun pola pikirnya masih
bersifat statsi dan masih belum mampu untuk berpikir secara abstrak,
persepsi mengenai waktu dan mengenai tempat masih tetap terbatas. Tahap
pra-operasional berkembang saat usia anak 2-7 tahun.
Tahap konkret
operasional, pada tahap ini anak sudah bisa menjalankan operasional dan
berpikirnya mulai berpikir secara rasional. Dalam tahap ini tugas-tugas seperti
menyusun, melipat, melakukan pemisahan, penggabungan, menderetkan
PERKEMBANGAN DEWASA
A.
Perkembangan
Fisik
Dilihat dari aspek perkembangan fisik, pada awal
masa dewasa kemampuan fisik mencapai puncaknya, dan sekaligus mengalami masa
penurunan. Adapun beberapa gejala penting dari perkembangan fisik yang terjadi
selama masa dewasa, antara lain kesehatan badan, sensor dan perseptual, serta
otak.
Dewasa awal adalah masa dimana seluruh potensi sebagai manusia berada
pada puncak perkembangan baik fisik maupun psikis. Masa yang memiliki rentang
waktu antara 20 – 40 tahun adalah masa-masa pengoptimalan potensi yang ada pada
diri individu. Jika masa ini bermasalah, akan mempengaruhi bahkan kemungkinan
individu mengalami masalah yang paling serius pada masa selanjutnya.Ada 3 masa
dewasa awal menjadi, yaitu masa pembentukan (20
– 30 tahun) dengan tugas perkembangan mulai memisahkan diri dari orang tua,
membentuk keluarga baru dengan pernikahan dan mengembangkan persahabatan.
Masa konsolidasi (30 – 40 tahun), yaitu masa
konsolidasi karir dan memperkuat ikatan perkawinan. Masa transisisi (sekitar usia 40 tahun), merupakan masa
meninggalkan kesibukan pekerjan dan melakukan evaluasi terhadap hal yang telah
diperoleh.
1. Kesehatan
badan.
Bagi kebanyakan orang, awal masa dewasa ditandai
dengan memuncaknya kemampuan dan kesehatan fisik. Mulai dari usia sekitar 18-25
tahun, individu memiliki kekuatan yang terbesar, gerak-gerak refleks mereka
sangat cepat. Demikian juga dengan kemampuan reproduksi mereka. Meskipun pada
masa ini kondisi kesehatan fisik mencapai puncak, namun selama periode ini
mereka juga mengalami penurunan keadaan fisik. Sejak usia 25 tahun,
perubahan-perubahan fisik mulai terlihat. Perubahan-perubahan ini sebagian
besar bersifat kuantitatif daripada kualitatif. Secara berangsur-angsur,
kekuatan fisik mengalami kemunduran, sehingga lebih mudah terserang penyakit.
Bagi wanita, perubahan biologis yang utama terjadi
selama masa pertengahan dewasa adalah perubahan dalam hal kemampuan reproduksi,
menopause, dan hilangnya kesuburan. Bagi laki-laki, proses penuaan selama masa
pertengahan dewasa tidak begitu kentara, karena tidak ada tanda-tanda
fisiologis dari peningkatan usia seperti berhentinya haid pada perempuan.
2. Perkembangan sensori.
Pada awal masa dewasa, penurunan fungsi penglihatan
dan pendengaran mungkin belum begitu kentara. Pada masa dewasa akhir barulah
terlihat adanya perubahan-perubahan sensori fisik dari panca inderanya.
3. Perkembangan otak.
Mulai masa dewasa awal, sel-sel otak juga
berangsur-angsur berkurang. Akan tetapi, perkembangbiakan koneksi neural,
khususnya bagi orang-orang yang tetap aktif, membantu mengganti sel-sel yang
hilang.
B.
Perkembangan
Kognitif
Pertanyaan yang paling banyak menimbulkan
kontroversi dalam studi tentang perkembangan rentang hidup manusia adalah
apakah kemampuan kognitif orang dewasa paralel dengan penurunan kemampuan
fisik. Pada umumnya, orang percaya bahwa proses kognitif -- belajar, memori,
dan inteligensi mengalami kemerosotan bersamaan dengan terus berkembangnya
usia. Bahkan, ada yang menyimpulkan bahwa usia terkait dengan penurunan proses
kognitif ini juga tercermin dalam masyarakat ilmiah. Akan tetapi, belakangan
ini sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan tentang terjadinya
kemerosotan proses kognitif bersamaan dengan penurunan kemampuan fisik,
sebenarnya hanyalah salah satu stereotip budaya yang meresap dalam diri kita.
1. Perkembangan
pemikiran postformal.
Sejumlah ahli perkembangan percaya bahwa pada masa
dewasa, individu-individu menata pemikiran operasional mereka. Mereka mungkin
merencanakan dan membuat hipotesis tentang masalah-masalah seperti remaja,
tetapi mereka menjadi sistematis ketika mendekati masalah sebagai orang dewasa.
D.P. Keating, penulis buku "Adolescent Thinking", mengatakan bahwa
ketika orang dewasa lebih mampu menyusun hipotesis daripada remaja dan
menurunkan suatu pemecahan masalah dari suatu permasalahan, banyak orang dewasa
yang tidak menggunakan pemikiran operasional formal sama sekali. Sementara itu,
Gisela Labouvie-Vief (dalam buku "Understanding Human Behavior",
karya McConnell dan Philipchalk), menyatakan bahwa pemikiran dewasa muda
menunjukkan suatu perubahan yang signifikan. Pemikiran orang dewasa muda
menjadi lebih konkret dan pragmatis.
Secara umum, orang dewasa lebih maju dalam
penggunaan intelektualitas. Pada masa dewasa awal misalnya, orang biasanya
berubah dari mencari pengetahuan menjadi menerapkan pengetahuan, yakni
menerapkan apa yang diketahuinya untuk mencapai jenjang karier dan membentuk
keluarga. Akan tetapi, tidak semua perubahan kognitif pada masa dewasa mengarah
pada peningkatan potensi. Bahkan, kadang-kadang beberapa kemampuan kognitif
mengalami kemerosotan seiring dengan pertambahan usia. Meskipun demikian,
sejumlah ahli percaya bahwa kemunduran keterampilan kognitif yang terjadi,
terutama pada masa dewasa akhir, dapat ditingkatkan kembali melalui serangkaian
pelatihan.
2. Perkembangan
memori.
Salah satu karakteristik yang paling sering
dihubungkan dengan orang dewasa dan usia tua adalah penurunan dalam daya ingat.
Namun, sejumlah bukti menunjukkan bahwa perubahan memori bukanlah sesuatu yang
pasti terjadi sebagai bagian dari proses penuaan, melainkan lebih merupakan
stereotip budaya.
3. Perkembangan
inteligensi.
Suatu mitos yang bertahan hingga sekarang adalah
bahwa menjadi tua berarti mengalami kemunduran intelektual. Mitos ini diperkuat
oleh sejumlah peneliti awal yang berpendapat bahwa seiring dengan proses
penuaan selama masa dewasa, terjadi kemunduran dalam inteligensi umum. Hampir
semua studi menunjukkan bahwa setelah mencapai puncaknya pada usia 18 dan 25
tahun, kebanyakan kemampuan manusia terus-menerus mengalami kemunduran.
Witherington dalam bukunya, "Educational Psychology", menyebutkan 3
faktor penyebab terjadinya kemunduran kemampuan belajar dewasa.
a. Ketiadaan kapasitas dasar.
Orang dewasa tidak akan memiliki kemampuan belajar
bila pada usia mudanya juga tidak memiliki kemampuan belajar yang memadai.
b. Terlampau lamanya tidak melakukan
aktivitas-aktivitas yang bersifat intelektual.
Orang-orang yang sudah berhenti membaca
bacaan-bacaan yang "berat" dan berhenti melakukan pekerjaan
intelektual, akan terlihat bodoh dan tidak mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan
semacam itu.
c. Faktor budaya.
Faktor yang dimaksud terutama dengan cara-cara
seseorang memberikan sambutan, seperti kebiasaan, cita-cita, sikap, dan prasangka-prasangka
yang telah mengakar, sehingga setiap usaha untuk mempelajari cara sambutan yang
baru akan mendapat tantangan yang kuat.
C.
Perkembangan
Psikososial
Selama masa dewasa, dunia sosial dan personal dari
individu menjadi lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan masa-masa
sebelumnya. Pada masa dewasa, individu memasuki peran kehidupan yang lebih
luas. Pola dan tingkah laku sosial orang dewasa berbeda dalam beberapa hal dari
orang yang lebih muda. Perbedaan-perbedaan tersebut tidak disebabkan oleh
peristiwa-peristiwa kehidupan yang dihubungkan dengan keluarga dan pekerjaan.
Selama periode ini, orang melibatkan diri secara khusus dalam karier,
pernikahan, dan hidup berkeluarga. Menurut E.H. Erikson, penulis buku
"Identity: Youth and Crisis", perkembangan psikososial selama masa
dewasa ditandai dengan tiga gejala penting, yaitu keintiman, generatif, dan
integritas.
1. Perkembangan
keintiman.
Keintiman dapat diartikan sebagai suatu kemampuan
memerhatikan orang lain dan membagi pengalaman dengan mereka. Menurut Erikson,
pembentukan hubungan intim ini merupakan tantangan utama yang dihadapi oleh
orang yang memasuki masa dewasa. Pada masa dewasa awal, orang-orang sudah siap
dan ingin menyatukan identitasnya dengan orang lain. Mereka mendambakan hubungan
yang intim/akrab, dilandasi rasa persaudaraan, serta siap mengembangkan
daya-daya yang dibutuhkan untuk memenuhi komitmen-komitmen ini, sekalipun
mereka mungkin harus berkorban.
2. Nilai-nilai cinta.
Selama tahap perkembangan keintiman ini,
nilai-nilai cinta muncul. John W Santrock, penulis buku "Child
Development", mengklasifikasikan cinta menjadi 4: altruisme, persahabatan,
cinta yang romantis/bergairah, dan cinta yang penuh perasaan/persahabatan.
Perasaan cinta pada masa ini lebih dari sekadar gairah/romantisme, melainkan
suatu afeksi -- cinta yang penuh perasaan dan kasih sayang. Cinta pada orang
dewasa diungkapkan dalam bentuk kepedulian terhadap orang lain. Orang-orang
dewasa awal lebih mampu melibatkan diri dalam hubungan bersama -- hubungan
saling berbagi hidup dengan orang lain yang intim.
3. Pernikahan
dan keluarga.
Dalam pandangan Erikson, keintiman biasanya
menuntut perkembangan seksual yang mengarah pada perkembangan hubungan seksual
dengan lawan jenis yang ia cintai, yang dipandang sebagai teman berbagi suka
dan duka. Ini berarti bahwa hubungan intim yang terbentuk akan mendorong orang
dewasa awal untuk mengembangkan genitalitas seksual yang sesungguhnya dalam
hubungan timbal balik dengan mitra yang dicintai. Kehidupan seks dalam
tahap-tahap perkembangan sebelumnya terbatas pada penemuan identitas seksual
dan perjuangan menjalin hubungan-hubungan akrab yang bersifat sementara. Agar
memiliki arti sosial yang menetap, maka organ genitalia membutuhkan seseorang
yang dicintai dan dapat diajak melakukan hubungan seksual, serta dapat berbagi
rasa dalam suatu hubungan kepercayaan. Di hampir setiap masyarakat, hubungan
seksual dan keintiman pada masa dewasa awal ini diperoleh melalui lembaga
pernikahan.
4. Perkembangan
generativitas.
Generativitas adalah tahap perkembangan psikososial
yang dialami individu selama pertengahan masa dewasa. Ciri utama tahap
generativitas adalah perhatian terhadap apa yang dihasilkan dan pembentukan,
serta penetapan garis-garis pedoman untuk generasi mendatang. Transmisi nilai-nilai
sosial ini diperlukan untuk memperkaya aspek psikoseksual dan aspek psikososial
kepribadian. Apabila generativitas lemah atau tidak diungkapkan, maka
kepribadian akan mundur, mengalami pemiskinan, dan stagnasi.
5. Perkembangan
integritas.
Integritas merupakan tahap perkembangan psikososial
Erikson yang terakhir. Integritas paling tepat dilukiskan sebagai suatu keadaan
yang dicapai seseorang setelah memelihara benda-benda, orang-orang,
produk-produk, dan ide-ide, kemudian menyesuaikan diri dengan berbagai
keberhasilan dan kegagalan dalam kehidupannya. Tahap ini dimulai kira-kira pada
usia 65 tahun.
Masa dewasa adalah masa yang sangat panjang (20 – 40
tahun), dimana sumber potensi dan kemampuan bertumpu pada usia ini. Masa ini
adalah peralihan dari masa remaja yang masih dalam ketergantungan menuju masa
dewasa, yang menuntut kemandirian dan diujung fase ini adalah fase dewasa
akhir, dimana kemampuan sedikit demi sedikit akan berkurang. Sehingga masa
dewasa awal adalah masa yang paling penting dalam hidup seseorang dalam masa
penitian karir/pekerjaan/sumber penghasilan yang tetap.
Masa ini
juga adalah masa dimana kematangan emosi memegang peranan penting. Seseorang
yang ada pada masa ini, harus bisa menempatkan dirinya pada situasi yang
berbeda; problem rumah tangga, masalah pekerjaan, pengasuhan anak, hidup
berkeluarga, menjadi warga masyarakat, pemimpin, suami/istri membutuhkan
kestabilan emosi yang baik dan membagi
PERKEMBANGAN REMAJA
A. Pengertian Remaja
Fase
remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting, yang di
awali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu berproduksi.
Kata remaja diterjemahkan dalam bahasa inggris adolescende atau adoleceré
(bahasa latin) yang berarti tumbuh atau tumbuh untuk masak, menjadi dewasa.
Dalam pemakaiannya istilah remaja dengan adolecen disamakan. Adolecen
maupun remaja menggambarkan seluruh perkembangan remaja baik perkembangan
fisik, intelektual, emosi dan social.
Istilah
lain untuk menunjukkan pengertian remaja yaitu pubertas. Pubertas berasal dari
kata pubes (dalam bahasa latin) yang berarti rambut kelamin, yaitu yang
merupakan tanda kelamin sekunder yang menekankan pada perkembangan seksual.
Dengan kata lain pemakaian kata pubertas sama dengan remaja tetapi lebih
menunjukkan remaja dalam perkembangan seksualnya atau pubertas hanya dipakai
dalam hubungannya dengan perkembangan bioseksualnya.
Masa
remaja di tinjau dari rentang kehidupan manusia merupakan masa peralihan dari
masa kanak-kanak ke masa dewasa. Jika melihat dari rentang usia remaja, Menurut
Hurlock (1964) menyatakan rentangan usia remaja itu antara 13-21 tahun, yang di
bagi pula dalam usia masa remaja awal 13/14 tahun sampai 17 tahun dan remaja
akhir 17 sampai 21 tahun.
WHO
menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja. WHO menyatakan
walaupun definisi di atas terutama di dasarkan pada usia kesuburan (fertilitas)
wanita, batasan tersebut berlaku juga untuk remaja pria dan WHO membagi kurung
usia dalam dua bagian, yaitu remaja awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20
tahun.
Selain
itu, ada juga membagi usia remaja menjadi tiga fase perkembangan, seperti
dikemukakan oleh Monks, dkk (2002) membagi fase-fase masa remaja ke dalam tiga
tahap, yaitu:
- Remaja awal (12-15 tahun)
- Remaja pertengahan (15-18
tahun)
- Masa remaja akhir (18-21 tahun)
Mengingat
saat mulainya masa remaja yang sangat dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan perorangan,
maka penentuan umur saja belum cukup untuk mengetahui apakah suatu tahap
perkembangan baru telah atau belum mulai. Penggolongan remaja yang semata-mata
berdasarkan usia saja, tidak membedakan remaja dengan keadaan sosial
psikologinya yang berlain-lainan.
Karakteristik Perkembangan Remaja
Ø Perkembangan fisik
Masa
remaja merupakan masa transisi perkembangan antara masa anak dan masa dewasa,
dimulai dengan pubertas, ditandai dengan perubahan yang pesat dalam berbagai
aspek perkembangan, baik fisik maupun psikis. Perubahan fisik yang terjadi pada
remaja terlihat pada saat masa pubertas yaitu meningkatnya tinggi dan berat
badan serta kematangan sosial. Diantara perubahan fisik itu, yang terbesar
pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan
menjadi semakin panjang dan tinggi).Selanjutnya, mulai berfungsinya alat-alat
reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki)
dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh (Sarwono, 2006: 52).
Dalam
ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu lain yang terkait, remaja dikenal sebagai suatu
tahap perkembangan fisik di mana alat-alat kelamin manusia mencapai
kematangannya. Pada akhir dari perkembangannya fisik ini akan terjadi seorang
pria yang berotot dan berkumis yang menghasilkan beberapa ratus juta sel mani
(spermatozoa) setiap kali ia berejakulasi (memancarkan air mani), atau seorang
wanita yang berpayudara dan berpinggul besar yang setiap bulannya mengeluarkan
sel telur dari indung telurnya yang disebut menstruasi atau haid.
Perubahan
fisik pada pada remaja pria meliputi
- Membesarnya ukuran penis dan
buah pelir
- Tumbuhnya bulu kapuk disekitar
kemaluan, ketiak, dan diwajah.
- Perubahan suara menjadi agak
membesar
- Terjadnya ejakulasi pertama
biasanya melalui maturbasi atau onani atau “web dream” (mimpi basah).
Sementara
perubahan fisik pada remaja wanita ditandai dengan
- Menstruasi pertama
- Mulai membesarnya payudara
- Tumbuhnya bulu kapuk di sekitar
ketiak dan kelamin.
- Membesarnya/ atau melebarnya
ukuran pinggul. Puncak pertumbuhan fisik masa pubertas adalah pada usia
11,5 tahun pada remaja wanita, dan usia 13,5 tahun bagi remaja pria.
- Perkembangan kognitif
Perkembangan
kognitif adalah perkembangan kemampuan (kapasitas) individu untuk memanipulasi
dan menyimak informasi. Menurut Jean Piaget, perkembangan kognitif remaja
berada pada tahap “formal operation stage” yaitu tahap ke empat atau terakhir
dari tahapan perkembangan kognitif. Tahapan berpikir formal ini terdiri atas 2
periode (Broughton dalam John W. Santrock, 2010:97), yaitu:
- Early formal operation thought,
yaitu kemampuan remaja untuk berpikir dengan cara hipotetif yang
menghasilkan pikiran-pikiran sukarela (bebas) tentang berbagai kemungkinan
yang tidak terbatas. Dalam priode awal ini remaja mempersepsi dunia sangat
bersifat subjektif dan idealistik.
- Late Formal Opreration Thought,
yaitu remaja mulai menguji pikirannya yang berlawanan dengan pengalamanya
dan mengembalikan keseimbangan intelektualnya. Melalui akomendasi
(penyesuaian terhadap informasi atau hal baru), remaja mulai menyesuaikan
terhadap bencana atau kondisi pancaroba yang telah dialaminya.
Remaja,
secara mental telah dapat berpikir secara logis tentang berbagai gagasan yang
abstrak. Dengan kata lain berpikir operasi formal lebih bersifat hipotesis dan
abstrak, serta sistematis dan ilmiah dalam memecahkan masalah daripada berpikir
konkret.
Ø Perkembangan emosi
Masa
remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosional yang
tinggi. Pertumbuhan fisik, terutama organ-organ seksual mempengaruhi berkembangnya
emosi atau perasaan-perasaan dan dorongan-dorongan baru yang dialami
sebelumnya, seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih
intim dengan lawan jenis.
Gesel
dkk. (Elizabeth B. Hurlock, 1980, terjemahan istiwidayanti dan Soedjarwo, 1991)
mengemukakan bahwa remaja empat belas tahun sering kali mudah marah, mudah
terangsang, dan emosinya cenderung “meledak”, tidak berusaha mengendalikan
perasaannya. Sebaliknya, remaja enam belas tahun mengatakan bahwa mereka “tidak
mempunyai keprihatinan”. Jadi, adanya badai dan tekanan dalam periode ini
berkurang menjelang akhirnya awal masa remaja.
Meskipun
pada usia remaja kemampuan kognitif telah berkembang dengan baik, yang mungkin
dapat mengatasi sters atau fluktuasi emosi secara efektif tetapi masih banyak
remaja yang belum mampu mengelolah emosinya sehingga mereka mengalami depresi
marah-marah, dan kurang mampu meregulasi emosi. Kondisi ini dapat memicu
masalah seperti kesulitan belajar menyalahgunakan obat dan perilaku menyimpang,
dalam suatu penelitian dikemukakan bahwa regulasi emosi sangat penting bagi
keberhasilan akademik. Remaja yang sering mengalami emosi yang negatif
cenderung memiliki prestasi belajar yang rendah.
Ø Perkembangan Sosial
Pada
masa remaja berkembang “social cognition” yaitu kemampuan untuk memahami orang
lain. Remaja memahami orang lain sebagai individu yang unik, baik menyangkut
sifat-sifat peribadi, minat nilai-nilai maupun perasaan. Pemahamannya ini,
mendorong remaja untuk menjalin hubungan sosial yang lebih akrap dengan mereka
(terutama teman sebaya),baik melalui jalinan persahabatan maupun percintan
(pacaran). Dalam hubungan persahabatan, remaja memilih teman yang memiliki
kualitas psikologis yang relatif sama dengan dirinya, baik menyangkut interes,
sikap, nilai, dan kepribadian.
Pada
masa ini juga berkembang sikap ‘conformity” yaitu kecenderungan untuk menyerah
atau mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran (hobby) atau
keinginan orang lain (teman sebaya). Perkembangan sikap konformitas pada remaja
dapat memberikan dampak yang positif maupun yang negatif bagi dirinya.
Penyesesuaian
sosial ini dapat diartikan sebagai “kemampuan untuk mereaksi secara tepat
terhadap realitas sosial, situasi, dan relasi. Remaja dituntut untuk memiliki
kemampuan penyesuaian sosial ini, baik dalam lingkungan keluarga, sosia, dan
masyarakat.
Ø Perkembangan Moral
Malalui
pengalaman atau berinteraksi sosial dengan orang tua, guru, teman sebaya, atau
orang dewasa lainnya, tingkat moralitas remaja sudah lebih matang jika dibandingkan
dengan usia anak. Mereka sudah lebih mengenal tentang nilai-nilai moral atau
konsep-konsep moralitas seperti kejujuran, keadilan, kesopanan, dan
kedisiplinan.
Pada
masa ini muncul dorongan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai
baik oleh orang lain. Remaja berprilaku bukan hanya untuk memenuhi kepuasaan
fisiknya, tetapi psikologis (rasa puas dengan adannya penerimaan dan peneliaian
positif dari orang lain tentang perbuatannya).
Ø Perkembangan kepribadian
Sifat-sifat
kepribadian mencerminkan perkembangan fisik, seksual, emosional, sosial,
kognitif, dan nilai-nilai. Masa remaja merupakan saat berkembangnya identity
(jati diri). Perkembangan “identity” merupakan isu sentral pada masa remaja
yang memberikan dasar bagi masa dewasa. Dapat juga dikatakan sebagai aspek
sentral bagi kepribadian yag sehat yang mereflesikan kesadaran diri. Kemampuan
mengidetifikasi orang lain dan mempelajari tujuan-tujuan agar dapat
berpartisipasi dalam kebudayaannya. Erikson menyakini bahwa perkembangan identity
pada masa remaja berkaitan erat dengan komitmennya terhadap okupasi masa depan,
peran-peran masa dewasa dan sistem keyakinan pribadi (Nancy J. Cobb, 1992: 75).
Sejak masa anak, sudah berkembang kesadaran akan diri dan masa remaja merupakan
saat berkembang usahany yang sadar untuk menjawab pertanyaan “who am I?” (Siapa
saya?).
Menurut
Erikson, identity diri individu berkembang pada usia remaja pada tahap
perkembangan kelima yaitu , identiti vs identiti confusion (kebingungan
identitas/peran). Erison mendifinisikan identitas sebagai consepsi konsep diri
penentuan tujuan, nilai dan keyakinan yang dipegang teguh oleh seseorang.
Krisis,
apabila remaja tidak mampu memilih diantara berbagai alternatif yang bermakna
remaja dikatakan telah menemuakan identitas dirinya (self-identity) ketika
berhasil memecahakan tiga masalah utama yaitu , pilihan pekerjaan, adopsi nilai
yang diyakinin dan dijalanin dan perkembangan identitas yang memuaskan.
Remaja
yang gagal menemukan identitas dirinya, atau mengalami kebingungan identitas,
cenderung menampilkan perilaku menyimpang atau aneh-aneh. Perilaku menyimpang
seperti menampikan diri dan cara bepakaian kata-kata kasar, senang mengonsumsi
makanan keras dan melalukan tindakan kriminal.
Ø Perkembangan Kesadaran Beragama
- Masa remaja awal (usia 13-16
tahun),
Pada
masa ini terjadi perubahan jasmanih yang cepat, Pertumbuhan fisik yang terkait
dengan seksual mengakibatkan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan dan
kekhawatiran pada diri remaja. Bahkan, kepercayaan agama yang telah tumbuh pada
umur sebelumnya, mungkin pula mengalami kegoncangan. Kepercayaan kepada Tuhan
kadang-kadang sangat kuat, akan tetapi kadang-kadang menjadi berkurang yang
terlihat pada cara ibadahnya yang kadang-kadang rajin dan kadang-kadang malas.
Penghayatan rohaninya cenderung skeptis (was-was) sehingga muncul keengganan
dan kemalasan untuk melakukan berbagai ibadah ritual (seperti ibadah salat)
yang selama ini dilakukannya dengan penuh kepatuhan.
2.
Masa remaja akhir (usia 17-21
tahun),
secara
psikologis, pada masa ini remaja sudah mulai stabil dan pemikirannya mulai
matang. Dalam kehidupan beragama remaja sudah melibatkan diri kedalam
kegiatan-kegiatan keagamaan. Remaja sudah dapat membedakan agama sebagai ajaran
dengan manusia sebagai penganutnya (ada yang taat dan ada yang tidak taat).
Kemampuan ini memungkinkan remaja untuk tidak terpengaruh oleh orang –orang
yang mengaku beragama, namun tidak melaksanakan ajaran agama. Remaja dapat
menilai bahwa ajaran agamanya yang salah, tetapi orangnya yang salah.
Ø Ciri-ciri (karakteristik) Umum Masa Remaja
Pada
remaja sering terlihat adanya :
- Kegelisahan, keadaan yang tidak
tenang menguasai ciri remaja. Mereka mempunyai banyak keinginan yang tidak
dapat selalu dipenuhi.
- Pertentangan,
pertentangan-pertentangan yang terjadi di dalam diri juga menimbulkan
kebingungan baik bagi dari mereka maupun orang lain. Pertentangan dapat
menyebabkan timbulnya keinginan yang hebat untuk melepaskan diri dari
orang tua, tambah pula keinginan melepaskan diri secara ekonomis tidak
memperoleh lagi bantuan dari keluarga dalam hal keuangan.
- Keinginan besar untuk mencoba
segala hal yang belum diketahui.
- Keinginan menjelajah kealam
sekitar yang lebih luas, misalnya melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan
pramuka, kelompok atau himpunan pencinta alam (Himapala).
- Menghayal dan berfantansi,
hayalan dan fantasi remaja banyak berkisar mengenai prestasi dan tangga
karir.
- Aktivitas kelompok. Kebanyakan
remaja-remaja menemukan jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dengan
berkumpul-berkumpul melakuakan kegiatan bersama, mengadakan penjelajahan
secara berkelompok.