Minggu, 12 Juni 2016

kesuksesan terbesar dalam hidupku

Kesuksesan terbesar dalam hidupku

Setiap pribadi pasti pernah mengalami kesuksesan dalam hidupnya. Kesuksesan tersebut tentunya memiliki arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Kesuksesan yang didapatkan tidak datang dengan sendirinya, diperlukan suatu perjuangan untuk dapat meraih kesuksesan. Berawal dari sebuah kemauan kuat yang menjadi dorongan untuk melakukan sesuatu yang kita yakini dapat berguna bagi kita di kemudian hari. Diperlukan juga sebuah keyakinan dan pola pikir yang positif, agar bila suatu saat keinginan kita tidak terpenuhi kita tidak putus asa dan menyerah, melainkan semakin terpacu untuk berusaha dan berdoa lebih baik lagi. Pada essay ini saya ingin menceritakan kesuksesan terbesar dalam hidup saya dan apa arti kesuksesan tersebut bagi saya.
Sejak kecil saya merupakan anak yang sulit diatur dan suka berulah hanya sekedar untuk mencari perhatian kedua orang tua. Tetapi dibalik kenakalan saya, saya selalu termotivasi untuk menunjukkan kesuksesan saya kepada mereka dan ingin membuat mereka bangga. Contohnya sewaktu saya duduk di bangku SMP, hampir semua orang yang saya kenal meragukan perilaku saya tetapi saya berhasil menjawab mereka dengan masuk ke deretan siswa peraih NEM tertinggi, dan berhasil masuk ke SMA. Jalan menuju universitas favorit bukanlah proses yang mudah bagi saya. Setiap hari selama di dalam kelas saya belajar dan berlatih. Selain di sekolah, di bimbingan belajar sepulang sekolah hingga malam hari sebelum tidur saya selalu belajar dengan giat. Saya merasa kehilangan pergaulan dengan teman bermain saya selama itu, dan termotivasi untuk bisa sukses masuk perguruan tinggi favorit dan membuat kedua orang tua saya bangga. Saya mengikuti ujian saringan masuk Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan tercantum di harian umum. Saya juga sangat senang melihat betapa bangganya kedua orang tua saya pada sat itu. Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah dikupang , dikarenakan biaya kuliah yang diperlukan lebih sedikit dan saya tidak ingin terlalu memberatkan kedua orang tua saya.
Masa-masa belajar diperkuliahan merupakan masa yang sangat berharga bagi saya. Saya banyak bertemu orang baru yang mayoritas berasal dari luar . Saya juga banyak bertemu dengan orang-orang yang memiliki pandangan hebat dan berwawasan luas. Walaupun banyak mengalami kesulitan, saya selalu mencoba untuk menjadi lebih baik dalam mengembangkan pribadi saya. Saya mulai menyadari pentingnya sebuah komitmen dalam hidup. Saya mendapatkan banyak pengalaman baik maupun buruk yang pada akhirnya membuat saya menjadi lebih dewasa. Saya sangat bersyukur karena adanya dukungan keluarga dan teman-teman saya yang mendorong saya untuk tetap fokus pada tujuan dan giat belajar.
Ujian paling berat yang pernah saya hadapi yaitu ketika mengerjakan tugas. sehingga saya banyak mengalami kesulitan dalam proses pengerjaan tugas saya. Saya sering sekali sakit karena kurang istirahat dan tertekan. Saya merasakan betapa sulitnya untuk kembali termotivasi. Untungnya saya tidak pernah merasa sendirian dalam menjalani ujian ini, teman-teman seperjuangan saya juga merasakan hal yang sama sehingga kami saling membantu dan saling memberikan dukungan. Dan saya sadar bahwa yang terpenting adalah prosesnya pencapaiannya, bukan hasil itu sendiri. Kita harus belajar menerima kesalahan kita dan cepat bangkit dari kegagalan tanpa berlarut-larut dalam penyesalan.


            Dari seluruh pengalaman sukses menurut saya di atas, saya selalu ingin dapat bermanfaat bagi orang lain dari apa yang telah saya dapatkan. Itulah mengapa saya memandang bahwa sukses sesungguhnya adalah bersabar, berniatan baik, dan yang paling utama adalah berbagi agar orang lain juga mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan sukses yang baik.


perkembangan anak,remaja dan dewasa

PERKEMBANGAN ANAK
Anak akan mengalami suatu periode yang dinamakan sebagai masa keemasan anak saat usia dini dimana saat itu anak akan sangat peka dan sensitif terhadap berbagai rangsangan dan pengaruh dari luar. Laju perkembangan dan pertumbuhan anak mempengaruhi masa keemasan dari masing-masing anak itu sendiri. Saat masa keemasan, anak akan mengalami tingkat perkembangan yang sangat drastis di mulai dari pekembangan berpikiri, perkembangan emosi, perkembangan motorik, perkembangan fisik dan perkembangan sosial. Lonjakan perkembangan ini terjadi saat anak berusia 0-8 tahun, dan lonjakan perkembangan ini tidak akan terjadi lagi di periode selanjutnya. Saat perkembangan anak khususnya saat perkembangan dini, orang tua harus betul menjadikannya sebagai perhatian khusus, karena hal ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak di masa yang akan datang. Guna mendukung hal tersebut berikut adalah beberapa hal yang harus di perhatikan orang tua mengenai perkembangan anaknya.
1.      Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif anak terbagi ke dalam beberapa tahap:
  • Tahap Sensorimotor, pada tahap ini kemampuan anak hanya pada gerakan refleks, mulai mengembangkan kebiasaan-kebiasaan awal, mereproduksi berbagai kejadian yang menurutnya menarik, mulai menggunakan berbagai hal atau peralatan guna mencapai tujuannya, melakukan berbagai eksperimen dan anak sudah mulai menemukan berbagai cara baru. Tahap sensorimotor terjadi saat usia 0-2 tahun.
  • Tahapan Pra-operasional, pada tahap ini anak mulai menerima berbagai rangsangan yang masih terbatas, Kemampuan bahasa anak mulai berkembang, meskipun pola pikirnya masih bersifat statsi dan masih belum mampu untuk berpikir secara abstrak, persepsi mengenai waktu dan mengenai tempat masih tetap terbatas. Tahap pra-operasional berkembang saat usia anak 2-7 tahun.
Tahap konkret operasional, pada tahap ini anak sudah bisa menjalankan operasional dan berpikirnya mulai berpikir secara rasional. Dalam tahap ini tugas-tugas seperti menyusun, melipat, melakukan pemisahan, penggabungan, menderetkan



PERKEMBANGAN DEWASA

A.    Perkembangan Fisik
Dilihat dari aspek perkembangan fisik, pada awal masa dewasa kemampuan fisik mencapai puncaknya, dan sekaligus mengalami masa penurunan. Adapun beberapa gejala penting dari perkembangan fisik yang terjadi selama masa dewasa, antara lain kesehatan badan, sensor dan perseptual, serta otak.
Dewasa awal adalah masa dimana seluruh potensi sebagai manusia berada pada puncak perkembangan baik fisik maupun psikis. Masa yang memiliki rentang waktu antara 20 – 40 tahun adalah masa-masa pengoptimalan potensi yang ada pada diri individu. Jika masa ini bermasalah, akan mempengaruhi bahkan kemungkinan individu mengalami masalah yang paling serius pada masa selanjutnya.Ada 3 masa dewasa awal menjadi, yaitu masa pembentukan (20 – 30 tahun) dengan tugas perkembangan mulai memisahkan diri dari orang tua, membentuk keluarga baru dengan pernikahan dan mengembangkan persahabatan. Masa konsolidasi (30 – 40 tahun), yaitu masa konsolidasi karir dan memperkuat ikatan perkawinan. Masa transisisi (sekitar usia 40 tahun), merupakan masa meninggalkan kesibukan pekerjan dan melakukan evaluasi terhadap hal yang telah diperoleh.

1. Kesehatan badan.
Bagi kebanyakan orang, awal masa dewasa ditandai dengan memuncaknya kemampuan dan kesehatan fisik. Mulai dari usia sekitar 18-25 tahun, individu memiliki kekuatan yang terbesar, gerak-gerak refleks mereka sangat cepat. Demikian juga dengan kemampuan reproduksi mereka. Meskipun pada masa ini kondisi kesehatan fisik mencapai puncak, namun selama periode ini mereka juga mengalami penurunan keadaan fisik. Sejak usia 25 tahun, perubahan-perubahan fisik mulai terlihat. Perubahan-perubahan ini sebagian besar bersifat kuantitatif daripada kualitatif. Secara berangsur-angsur, kekuatan fisik mengalami kemunduran, sehingga lebih mudah terserang penyakit.
Bagi wanita, perubahan biologis yang utama terjadi selama masa pertengahan dewasa adalah perubahan dalam hal kemampuan reproduksi, menopause, dan hilangnya kesuburan. Bagi laki-laki, proses penuaan selama masa pertengahan dewasa tidak begitu kentara, karena tidak ada tanda-tanda fisiologis dari peningkatan usia seperti berhentinya haid pada perempuan.
2. Perkembangan sensori.
Pada awal masa dewasa, penurunan fungsi penglihatan dan pendengaran mungkin belum begitu kentara. Pada masa dewasa akhir barulah terlihat adanya perubahan-perubahan sensori fisik dari panca inderanya.
3. Perkembangan otak.
Mulai masa dewasa awal, sel-sel otak juga berangsur-angsur berkurang. Akan tetapi, perkembangbiakan koneksi neural, khususnya bagi orang-orang yang tetap aktif, membantu mengganti sel-sel yang hilang.
B.     Perkembangan Kognitif
Pertanyaan yang paling banyak menimbulkan kontroversi dalam studi tentang perkembangan rentang hidup manusia adalah apakah kemampuan kognitif orang dewasa paralel dengan penurunan kemampuan fisik. Pada umumnya, orang percaya bahwa proses kognitif -- belajar, memori, dan inteligensi mengalami kemerosotan bersamaan dengan terus berkembangnya usia. Bahkan, ada yang menyimpulkan bahwa usia terkait dengan penurunan proses kognitif ini juga tercermin dalam masyarakat ilmiah. Akan tetapi, belakangan ini sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan tentang terjadinya kemerosotan proses kognitif bersamaan dengan penurunan kemampuan fisik, sebenarnya hanyalah salah satu stereotip budaya yang meresap dalam diri kita.
1. Perkembangan pemikiran postformal.
Sejumlah ahli perkembangan percaya bahwa pada masa dewasa, individu-individu menata pemikiran operasional mereka. Mereka mungkin merencanakan dan membuat hipotesis tentang masalah-masalah seperti remaja, tetapi mereka menjadi sistematis ketika mendekati masalah sebagai orang dewasa. D.P. Keating, penulis buku "Adolescent Thinking", mengatakan bahwa ketika orang dewasa lebih mampu menyusun hipotesis daripada remaja dan menurunkan suatu pemecahan masalah dari suatu permasalahan, banyak orang dewasa yang tidak menggunakan pemikiran operasional formal sama sekali. Sementara itu, Gisela Labouvie-Vief (dalam buku "Understanding Human Behavior", karya McConnell dan Philipchalk), menyatakan bahwa pemikiran dewasa muda menunjukkan suatu perubahan yang signifikan. Pemikiran orang dewasa muda menjadi lebih konkret dan pragmatis.
Secara umum, orang dewasa lebih maju dalam penggunaan intelektualitas. Pada masa dewasa awal misalnya, orang biasanya berubah dari mencari pengetahuan menjadi menerapkan pengetahuan, yakni menerapkan apa yang diketahuinya untuk mencapai jenjang karier dan membentuk keluarga. Akan tetapi, tidak semua perubahan kognitif pada masa dewasa mengarah pada peningkatan potensi. Bahkan, kadang-kadang beberapa kemampuan kognitif mengalami kemerosotan seiring dengan pertambahan usia. Meskipun demikian, sejumlah ahli percaya bahwa kemunduran keterampilan kognitif yang terjadi, terutama pada masa dewasa akhir, dapat ditingkatkan kembali melalui serangkaian pelatihan.
2. Perkembangan memori.
Salah satu karakteristik yang paling sering dihubungkan dengan orang dewasa dan usia tua adalah penurunan dalam daya ingat. Namun, sejumlah bukti menunjukkan bahwa perubahan memori bukanlah sesuatu yang pasti terjadi sebagai bagian dari proses penuaan, melainkan lebih merupakan stereotip budaya.
3. Perkembangan inteligensi.
Suatu mitos yang bertahan hingga sekarang adalah bahwa menjadi tua berarti mengalami kemunduran intelektual. Mitos ini diperkuat oleh sejumlah peneliti awal yang berpendapat bahwa seiring dengan proses penuaan selama masa dewasa, terjadi kemunduran dalam inteligensi umum. Hampir semua studi menunjukkan bahwa setelah mencapai puncaknya pada usia 18 dan 25 tahun, kebanyakan kemampuan manusia terus-menerus mengalami kemunduran. Witherington dalam bukunya, "Educational Psychology", menyebutkan 3 faktor penyebab terjadinya kemunduran kemampuan belajar dewasa.
a. Ketiadaan kapasitas dasar.
Orang dewasa tidak akan memiliki kemampuan belajar bila pada usia mudanya juga tidak memiliki kemampuan belajar yang memadai.
b. Terlampau lamanya tidak melakukan aktivitas-aktivitas yang bersifat intelektual.
Orang-orang yang sudah berhenti membaca bacaan-bacaan yang "berat" dan berhenti melakukan pekerjaan intelektual, akan terlihat bodoh dan tidak mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan semacam itu.
c. Faktor budaya.
Faktor yang dimaksud terutama dengan cara-cara seseorang memberikan sambutan, seperti kebiasaan, cita-cita, sikap, dan prasangka-prasangka yang telah mengakar, sehingga setiap usaha untuk mempelajari cara sambutan yang baru akan mendapat tantangan yang kuat.
C.     Perkembangan Psikososial
Selama masa dewasa, dunia sosial dan personal dari individu menjadi lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Pada masa dewasa, individu memasuki peran kehidupan yang lebih luas. Pola dan tingkah laku sosial orang dewasa berbeda dalam beberapa hal dari orang yang lebih muda. Perbedaan-perbedaan tersebut tidak disebabkan oleh peristiwa-peristiwa kehidupan yang dihubungkan dengan keluarga dan pekerjaan. Selama periode ini, orang melibatkan diri secara khusus dalam karier, pernikahan, dan hidup berkeluarga. Menurut E.H. Erikson, penulis buku "Identity: Youth and Crisis", perkembangan psikososial selama masa dewasa ditandai dengan tiga gejala penting, yaitu keintiman, generatif, dan integritas.
1. Perkembangan keintiman.
Keintiman dapat diartikan sebagai suatu kemampuan memerhatikan orang lain dan membagi pengalaman dengan mereka. Menurut Erikson, pembentukan hubungan intim ini merupakan tantangan utama yang dihadapi oleh orang yang memasuki masa dewasa. Pada masa dewasa awal, orang-orang sudah siap dan ingin menyatukan identitasnya dengan orang lain. Mereka mendambakan hubungan yang intim/akrab, dilandasi rasa persaudaraan, serta siap mengembangkan daya-daya yang dibutuhkan untuk memenuhi komitmen-komitmen ini, sekalipun mereka mungkin harus berkorban.
2. Nilai-nilai cinta.
Selama tahap perkembangan keintiman ini, nilai-nilai cinta muncul. John W Santrock, penulis buku "Child Development", mengklasifikasikan cinta menjadi 4: altruisme, persahabatan, cinta yang romantis/bergairah, dan cinta yang penuh perasaan/persahabatan. Perasaan cinta pada masa ini lebih dari sekadar gairah/romantisme, melainkan suatu afeksi -- cinta yang penuh perasaan dan kasih sayang. Cinta pada orang dewasa diungkapkan dalam bentuk kepedulian terhadap orang lain. Orang-orang dewasa awal lebih mampu melibatkan diri dalam hubungan bersama -- hubungan saling berbagi hidup dengan orang lain yang intim.
3. Pernikahan dan keluarga.
Dalam pandangan Erikson, keintiman biasanya menuntut perkembangan seksual yang mengarah pada perkembangan hubungan seksual dengan lawan jenis yang ia cintai, yang dipandang sebagai teman berbagi suka dan duka. Ini berarti bahwa hubungan intim yang terbentuk akan mendorong orang dewasa awal untuk mengembangkan genitalitas seksual yang sesungguhnya dalam hubungan timbal balik dengan mitra yang dicintai. Kehidupan seks dalam tahap-tahap perkembangan sebelumnya terbatas pada penemuan identitas seksual dan perjuangan menjalin hubungan-hubungan akrab yang bersifat sementara. Agar memiliki arti sosial yang menetap, maka organ genitalia membutuhkan seseorang yang dicintai dan dapat diajak melakukan hubungan seksual, serta dapat berbagi rasa dalam suatu hubungan kepercayaan. Di hampir setiap masyarakat, hubungan seksual dan keintiman pada masa dewasa awal ini diperoleh melalui lembaga pernikahan.

4. Perkembangan generativitas.
Generativitas adalah tahap perkembangan psikososial yang dialami individu selama pertengahan masa dewasa. Ciri utama tahap generativitas adalah perhatian terhadap apa yang dihasilkan dan pembentukan, serta penetapan garis-garis pedoman untuk generasi mendatang. Transmisi nilai-nilai sosial ini diperlukan untuk memperkaya aspek psikoseksual dan aspek psikososial kepribadian. Apabila generativitas lemah atau tidak diungkapkan, maka kepribadian akan mundur, mengalami pemiskinan, dan stagnasi.
5. Perkembangan integritas.
Integritas merupakan tahap perkembangan psikososial Erikson yang terakhir. Integritas paling tepat dilukiskan sebagai suatu keadaan yang dicapai seseorang setelah memelihara benda-benda, orang-orang, produk-produk, dan ide-ide, kemudian menyesuaikan diri dengan berbagai keberhasilan dan kegagalan dalam kehidupannya. Tahap ini dimulai kira-kira pada usia 65 tahun.
Masa dewasa adalah masa yang sangat panjang (20 – 40 tahun), dimana sumber potensi dan kemampuan bertumpu pada usia ini. Masa ini adalah peralihan dari masa remaja yang masih dalam ketergantungan menuju masa dewasa, yang menuntut kemandirian dan diujung fase ini adalah fase dewasa akhir, dimana kemampuan sedikit demi sedikit akan berkurang. Sehingga masa dewasa awal adalah masa yang paling penting dalam hidup seseorang dalam masa penitian karir/pekerjaan/sumber penghasilan yang tetap.
Masa ini juga adalah masa dimana kematangan emosi memegang peranan penting. Seseorang yang ada pada masa ini, harus bisa menempatkan dirinya pada situasi yang berbeda; problem rumah tangga, masalah pekerjaan, pengasuhan anak, hidup berkeluarga, menjadi warga masyarakat, pemimpin, suami/istri membutuhkan kestabilan emosi yang baik dan membagi  


PERKEMBANGAN REMAJA

A. Pengertian Remaja
Fase remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting, yang di awali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu berproduksi. Kata remaja diterjemahkan dalam bahasa inggris adolescende atau adoleceré (bahasa latin) yang berarti tumbuh atau tumbuh untuk masak, menjadi dewasa. Dalam pemakaiannya istilah remaja dengan adolecen disamakan. Adolecen maupun  remaja menggambarkan seluruh perkembangan remaja baik perkembangan fisik, intelektual, emosi dan social.
Istilah lain untuk menunjukkan pengertian remaja yaitu pubertas. Pubertas berasal dari kata pubes (dalam bahasa latin) yang berarti rambut kelamin, yaitu yang merupakan tanda kelamin sekunder yang menekankan pada perkembangan seksual. Dengan kata lain pemakaian kata pubertas sama dengan remaja tetapi lebih menunjukkan remaja dalam perkembangan seksualnya atau pubertas hanya dipakai dalam hubungannya dengan perkembangan bioseksualnya.
Masa remaja di tinjau dari rentang kehidupan manusia merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Jika melihat dari rentang usia remaja, Menurut Hurlock (1964) menyatakan rentangan usia remaja itu antara 13-21 tahun, yang di bagi pula dalam usia masa remaja awal 13/14 tahun sampai 17 tahun dan remaja akhir 17 sampai 21 tahun.
WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja. WHO menyatakan walaupun definisi di atas terutama di dasarkan pada usia kesuburan (fertilitas) wanita, batasan tersebut berlaku juga untuk remaja pria dan WHO membagi kurung usia dalam dua bagian, yaitu remaja awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun.
Selain itu, ada juga membagi usia remaja menjadi tiga fase perkembangan, seperti dikemukakan oleh Monks, dkk (2002) membagi fase-fase masa remaja ke dalam tiga tahap, yaitu:
  1. Remaja awal (12-15 tahun)
  2. Remaja pertengahan (15-18 tahun)
  3. Masa remaja akhir (18-21 tahun)
Mengingat saat mulainya masa remaja yang sangat dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan perorangan, maka penentuan umur saja belum cukup untuk mengetahui apakah suatu tahap perkembangan baru telah atau belum mulai. Penggolongan remaja yang semata-mata berdasarkan usia saja, tidak membedakan remaja dengan keadaan sosial psikologinya yang berlain-lainan.


Karakteristik Perkembangan Remaja
Ø  Perkembangan fisik
Masa remaja merupakan masa transisi perkembangan antara masa anak dan masa dewasa, dimulai dengan pubertas, ditandai dengan perubahan yang pesat dalam berbagai aspek perkembangan, baik fisik maupun psikis. Perubahan fisik yang terjadi pada remaja terlihat pada saat masa pubertas yaitu meningkatnya tinggi dan berat badan serta kematangan sosial. Diantara perubahan fisik itu, yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi semakin panjang dan tinggi).Selanjutnya, mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh (Sarwono, 2006: 52).
Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu lain yang terkait, remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik di mana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya. Pada akhir dari perkembangannya fisik ini akan terjadi seorang pria yang berotot dan berkumis yang menghasilkan beberapa ratus juta sel mani (spermatozoa) setiap kali ia berejakulasi (memancarkan air mani), atau seorang wanita yang berpayudara dan berpinggul besar yang setiap bulannya mengeluarkan sel telur dari indung telurnya yang disebut menstruasi atau haid.

Perubahan fisik pada pada remaja pria meliputi
  1. Membesarnya ukuran penis dan buah pelir
  2. Tumbuhnya bulu kapuk disekitar kemaluan, ketiak, dan diwajah.
  3. Perubahan suara menjadi agak membesar
  4. Terjadnya ejakulasi pertama biasanya melalui maturbasi atau onani atau “web dream” (mimpi basah).
Sementara perubahan fisik pada remaja wanita ditandai dengan
  1. Menstruasi pertama
  2. Mulai membesarnya payudara
  3. Tumbuhnya bulu kapuk di sekitar ketiak dan kelamin.
  4. Membesarnya/ atau melebarnya ukuran pinggul. Puncak pertumbuhan fisik masa pubertas adalah pada usia 11,5 tahun pada remaja wanita, dan usia 13,5 tahun bagi remaja pria.
  5. Perkembangan kognitif
Perkembangan kognitif adalah perkembangan kemampuan (kapasitas) individu untuk memanipulasi dan menyimak informasi. Menurut Jean Piaget, perkembangan kognitif remaja berada pada tahap “formal operation stage” yaitu tahap ke empat atau terakhir dari tahapan perkembangan kognitif. Tahapan berpikir formal ini terdiri atas 2 periode (Broughton dalam John W. Santrock, 2010:97), yaitu:
  1. Early formal operation thought, yaitu kemampuan remaja untuk berpikir dengan cara hipotetif yang menghasilkan pikiran-pikiran sukarela (bebas) tentang berbagai kemungkinan yang tidak terbatas. Dalam priode awal ini remaja mempersepsi dunia sangat bersifat subjektif dan idealistik.
  2. Late Formal Opreration Thought, yaitu remaja mulai menguji pikirannya yang berlawanan dengan pengalamanya dan mengembalikan keseimbangan intelektualnya. Melalui akomendasi (penyesuaian terhadap informasi atau hal baru), remaja mulai menyesuaikan terhadap bencana atau kondisi pancaroba yang telah dialaminya.
Remaja, secara mental telah dapat berpikir secara logis tentang berbagai gagasan yang abstrak. Dengan kata lain berpikir operasi formal lebih bersifat hipotesis dan abstrak, serta sistematis dan ilmiah dalam memecahkan masalah daripada berpikir konkret.
Ø  Perkembangan emosi
Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosional yang tinggi. Pertumbuhan fisik, terutama organ-organ seksual mempengaruhi berkembangnya emosi atau perasaan-perasaan dan dorongan-dorongan baru yang dialami sebelumnya, seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan jenis.
Gesel dkk. (Elizabeth B. Hurlock, 1980, terjemahan istiwidayanti dan Soedjarwo, 1991) mengemukakan bahwa remaja empat belas tahun sering kali mudah marah, mudah terangsang, dan emosinya cenderung “meledak”, tidak berusaha mengendalikan perasaannya. Sebaliknya, remaja enam belas tahun mengatakan bahwa mereka “tidak mempunyai keprihatinan”. Jadi, adanya badai dan tekanan dalam periode ini berkurang menjelang akhirnya awal masa remaja.
Meskipun pada usia remaja kemampuan kognitif telah berkembang dengan baik, yang mungkin dapat mengatasi sters atau fluktuasi emosi secara efektif tetapi masih banyak remaja yang belum mampu mengelolah emosinya sehingga mereka mengalami depresi marah-marah, dan kurang mampu meregulasi emosi. Kondisi ini dapat memicu masalah seperti kesulitan belajar menyalahgunakan obat dan perilaku menyimpang, dalam suatu penelitian dikemukakan bahwa regulasi emosi sangat penting bagi keberhasilan akademik. Remaja yang sering mengalami emosi yang negatif cenderung memiliki prestasi belajar yang rendah.
Ø  Perkembangan Sosial
Pada masa remaja berkembang “social cognition” yaitu kemampuan untuk memahami orang lain. Remaja memahami orang lain sebagai individu yang unik, baik menyangkut sifat-sifat peribadi, minat nilai-nilai maupun perasaan. Pemahamannya ini, mendorong remaja untuk menjalin hubungan sosial yang lebih akrap dengan mereka (terutama teman sebaya),baik melalui jalinan persahabatan maupun percintan (pacaran). Dalam hubungan persahabatan, remaja memilih teman yang memiliki kualitas psikologis yang relatif sama dengan dirinya, baik menyangkut interes, sikap, nilai, dan kepribadian.
Pada masa ini juga berkembang sikap ‘conformity” yaitu kecenderungan untuk menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran (hobby) atau keinginan orang lain (teman sebaya). Perkembangan sikap konformitas pada remaja dapat memberikan dampak yang positif maupun yang negatif bagi dirinya.
Penyesesuaian sosial ini dapat diartikan sebagai “kemampuan untuk mereaksi secara tepat terhadap realitas sosial, situasi, dan relasi. Remaja dituntut untuk memiliki kemampuan penyesuaian sosial ini, baik dalam lingkungan keluarga, sosia, dan masyarakat.
Ø  Perkembangan Moral
Malalui pengalaman atau berinteraksi sosial dengan orang tua, guru, teman sebaya, atau orang dewasa lainnya, tingkat moralitas remaja sudah lebih matang jika dibandingkan dengan usia anak. Mereka sudah lebih mengenal tentang nilai-nilai moral atau konsep-konsep moralitas seperti kejujuran, keadilan, kesopanan, dan kedisiplinan.
Pada masa ini muncul dorongan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik oleh orang lain. Remaja berprilaku bukan hanya untuk memenuhi kepuasaan fisiknya, tetapi psikologis (rasa puas dengan adannya penerimaan dan peneliaian positif dari orang lain tentang perbuatannya).
Ø  Perkembangan kepribadian
Sifat-sifat kepribadian mencerminkan perkembangan fisik, seksual, emosional, sosial, kognitif, dan nilai-nilai. Masa remaja merupakan saat berkembangnya identity (jati diri). Perkembangan “identity” merupakan isu sentral pada masa remaja yang memberikan dasar bagi masa dewasa. Dapat juga dikatakan sebagai aspek sentral bagi kepribadian yag sehat yang mereflesikan kesadaran diri. Kemampuan mengidetifikasi orang lain dan mempelajari tujuan-tujuan agar dapat berpartisipasi dalam kebudayaannya. Erikson menyakini bahwa perkembangan identity pada masa remaja berkaitan erat dengan komitmennya terhadap okupasi masa depan, peran-peran masa dewasa dan sistem keyakinan pribadi (Nancy J. Cobb, 1992: 75). Sejak masa anak, sudah berkembang kesadaran akan diri dan masa remaja merupakan saat berkembang usahany yang sadar untuk menjawab pertanyaan “who am I?” (Siapa saya?).
Menurut Erikson, identity diri individu berkembang pada usia remaja pada tahap perkembangan kelima yaitu , identiti vs identiti confusion (kebingungan identitas/peran). Erison mendifinisikan identitas sebagai consepsi konsep diri penentuan tujuan, nilai dan keyakinan yang dipegang teguh oleh seseorang.
Krisis, apabila remaja tidak mampu memilih diantara berbagai alternatif yang bermakna remaja dikatakan telah menemuakan identitas dirinya (self-identity) ketika berhasil memecahakan tiga masalah utama yaitu , pilihan pekerjaan, adopsi nilai yang diyakinin dan dijalanin dan perkembangan identitas yang memuaskan.
Remaja yang gagal menemukan identitas dirinya, atau mengalami kebingungan identitas, cenderung menampilkan perilaku menyimpang atau aneh-aneh. Perilaku menyimpang seperti menampikan diri dan cara bepakaian kata-kata kasar, senang mengonsumsi makanan keras dan melalukan tindakan kriminal.
Ø  Perkembangan Kesadaran Beragama
  1. Masa remaja awal (usia 13-16 tahun),
Pada masa ini terjadi perubahan jasmanih yang cepat, Pertumbuhan fisik yang terkait dengan seksual mengakibatkan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan dan kekhawatiran pada diri remaja. Bahkan, kepercayaan agama yang telah tumbuh pada umur sebelumnya, mungkin pula mengalami kegoncangan. Kepercayaan kepada Tuhan kadang-kadang sangat kuat, akan tetapi kadang-kadang menjadi berkurang yang terlihat pada cara ibadahnya yang kadang-kadang rajin dan kadang-kadang malas. Penghayatan rohaninya cenderung skeptis (was-was) sehingga muncul keengganan dan kemalasan untuk melakukan berbagai ibadah ritual (seperti ibadah salat) yang selama ini dilakukannya dengan penuh kepatuhan.
2.      Masa remaja akhir (usia 17-21 tahun),
secara psikologis, pada masa ini remaja sudah mulai stabil dan pemikirannya mulai matang. Dalam kehidupan beragama remaja sudah melibatkan diri kedalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Remaja sudah dapat membedakan agama sebagai ajaran dengan manusia sebagai penganutnya (ada yang taat dan ada yang tidak taat). Kemampuan ini memungkinkan remaja untuk tidak terpengaruh oleh orang –orang yang mengaku beragama, namun tidak melaksanakan ajaran agama. Remaja dapat menilai bahwa ajaran agamanya yang salah, tetapi orangnya yang salah.

Ø  Ciri-ciri (karakteristik) Umum Masa Remaja
Pada remaja sering terlihat adanya :
  1. Kegelisahan, keadaan yang tidak tenang menguasai ciri remaja. Mereka mempunyai banyak keinginan yang tidak dapat selalu dipenuhi.
  2. Pertentangan, pertentangan-pertentangan yang terjadi di dalam diri juga menimbulkan kebingungan baik bagi dari mereka maupun orang lain. Pertentangan dapat menyebabkan timbulnya keinginan yang hebat untuk melepaskan diri dari orang tua, tambah pula keinginan melepaskan diri secara ekonomis tidak memperoleh lagi bantuan dari keluarga dalam hal keuangan.
  3. Keinginan besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahui.
  4. Keinginan menjelajah kealam sekitar yang lebih luas, misalnya melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan pramuka, kelompok atau himpunan pencinta alam (Himapala).
  5. Menghayal dan berfantansi, hayalan dan fantasi remaja banyak berkisar mengenai prestasi dan tangga karir.
  6. Aktivitas kelompok. Kebanyakan remaja-remaja menemukan jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dengan berkumpul-berkumpul melakuakan kegiatan bersama, mengadakan penjelajahan secara berkelompok.

Jumat, 13 Mei 2016

Peran Lingkungan Terhadap Perkembangan Anak



Nama:Ivon D.Manggoa
Kelas/sem: A/II
No reg:13115026


   PERAN LINGKUNGAN TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK


Anak dan Generasi Muda merupakan tumpuan harapan pembangunan. Di tangan merekalah tongkat estafet keberlanjutan peningkatan kualitas lingkungan akan diteruskan. Setiap insan orang tua dan keluarga dalam sebuah tatanan masyarakat pasti menginginkan hal yang terbaik agar kelak anak-anak dan generasi penerus mereka dapat menjadi anak yang saleh, sukses meraih apa yang diimpikan, serta menjadi insan yang memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat. Pribadi yang ramah dan santun, mental yang tegar, pemikiran yang cerdas dan kreatif, pola berpikir yang positif, dan sikap kemandirian yang kuat adalah salah satu wujud impian semua orang tua dan masyarakat bagi anak-anak dan para generasi mudanya.
Namun demikian, untuk menuju hal tersebut, tentu banyak hal yang berpengaruh dalam mewujudkan impian yang mulia tersebut, diantaranya faktor lingkungan baik lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat.

Pada hakikatnya tujuan  pendidikan adalah untuk membekali dan memantapkan anak dengan pengetahuan dan kemampuan dasar sehingga  anak-anak  mampu mengembangkan kemampuan berfikir,dan mampu menerapakan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Secara operasional adalah bertujuan agar masyarakat maupun anak memiliki motivasi bahwa pentingnya pendidikan yang di berikan kepada mereka sebagai individu, anggota masyarakat, maupun anak yang terdidik serta bertekad dan bersedia untuk mewujudkannya, agar mampu menyesuaikan diri dalam lingkungan sekitarnya.

Hal ini sekedar sebagai wahana untuk membentuk, membuka wawasan dan juga bahan perenungan bagi masyarakat maupun anak-anak dalam memahami peran lingkungan itu sendiri terhadap perkembangan anak / generasi muda. Sehingga dengan pemahaman yang sejalan satu sama lain, segenap unsur masyarakat dapat saling seiring sejalan, bertekad mewujudkan tatanan lingkungan kemasyarakatan yang positif dan mendukung tumbuh berkembangnya pribadi anak-anak dan generasi muda yang positif seperti yang kita cita-citakan. Demi mewujudkan generasi penerus yang lebih baik, sesuai amanat dan tuntunan ajaran agama.